http://daurahnasional-pimpin.org/site/
Tidak banyak cendekiawan Muslim yang menguasai khasanah Islam dan Barat sekaligus. Salah satunya adalah Dr. Anis Malik Thoha. Pria kelahiran Demak 31 Desember 1964, ini terkenal kritis bila berbicara tentang peradaban Barat, namun tetap menggunakan argumentasi ilmiah yang kokoh. Maka tidak mengherankan disertasinya berjudul: “Al-Taaddudiyyah al-Diniyyah: Ru’yah Islamiyyah” (Pluralisme Agama, Pandangan Islam) diganjar Gold Medal [...]
Sekilas Sejarah Sains Dalam Peradaban Islam Kontribusi Ilmuwan Muslim dalam bidang sains[2], khususnya ilmu alam (natural science) amatlah besar, sehingga usaha menutupinya, memperkecil perannya, mengaburkan sejarahnya tidak sepenuhunya berhasil. CIPSI (Center for Islamic philosophical studies and information) sebuah lembaga penelitian yang dipimpin oleh Prof. Mulyadhi Kartanegara telah meninventarisasi setidaknya ditemukan tidak kurang dari 756 ilmuwan [...]
Telaah Terhadap Kitab Ihya’ ‘Ulumuddin Bab Ilmu[1] Oleh : Wendi Zarman[2] 1. Pendahuluan Disamping ketokohannya dalam berbagai bidang keilmuan seperti fikih, tasawuf, dan filsafat, Al Ghazzali adalah tokoh besar pendidikan Islam pada zamannya dengan pemikiran-pemikirannya masih mewarnai pemikiran umat Islam kontemporer. Namun memang ketokohannya dalam dunia pendidikan tampak tidak begitu dikenal sebagaimana ketokohannya di bidang-bidang [...]
January 25th, 2012
Mohammad Ishaq
January 14th, 2012
Mohammad Ishaq
December 26th, 2011
Mohammad Ishaq Oleh:
Rushdie Kasman
(Peneliti PIMPIN)
Suatu hari di tahun 1958, orientalis kaliber dunia bernama Prof. Joseph Schacht memberikan ceramah di Universitas Mc Gill, Kanada. Secara terbuka, Schacht menyatakan bahwa hukum Islam adalah arbitrage, karena waktu itu tidak ada hukum tertulis yang dijadikan tempat mencari keadilan. Dengan kata lain, karena Nabi Muhammad SAW tidak mendirikan pemerintahan tapi hanya membentuk ummah, maka segala perselisihan diselesaikan menurut arbitrage. Karena itulah, kata-kata yang dipakai untuk mengetengahkan suatu sengketa adalah hakama yang berarti “penengah” wasit, dan bukan qadha yang berarti memutuskan. Hal itu sama saja dengan mengatakan bahwa nabi Muhammad SAW tidak pernah menyusun suatu konsep kenegaraan.
Mendengar pidato Schacht itu, seorang associate professor berkulit sawo matang dan berwajah teduh itu menyampaikan sanggahan. Lelaki sawo matang itu menyatakan bahwa Prof. Schacht keliru memahami bahasa Arab. Kata hakama dan qadha di dalam Al Qur’an merupakan sinonim, dua kata yang mempunyai arti sama. Sanggahan lelaki berkulit sawo matang itu membuat suasana menjadi gempar. Karena, ada orang yang secara lantang menyanggah pemikir ternama sekaliber Schacht. Dan, lelaki sawo matang yang berwajah teduh itu adalah Professor Haji Muhammad Rasjidi.
Demikian pengantar dalam acara bedah Buku, Empat Kuliah Agama Islam Pada Perguruan Tinggi, yang diadakan oleh DISC UI di Masjid Al Ukhuwah Al Islamiyah. Pembicara yang dihadirkan siang itu, antara lain DR. Adian Husaini, dari INSIST dan Prof. Akhyar, dari UI namun beliau berhalangan hadir.
Secara pribadi, ustadz Adian -sapaan akrab ustadz Adian Husaini- menyanjung kehadiran buku Empat Kuliah Agama Islam Pada Perguruan Tinggi Prof H,M Rasjidi, sebab sangat tepat waktu, disaat gencar-gencarnya pemikiran sekularisme yang tumbuh pada masa orde baru. Dan, beliau juga mengakui mulai membaca buku Prof Rasjidi sejak masih duduk di semester satu.
Prof. H.M RASJIDI
Prof. HM Rasjidi adalah Seorang yang memiliki pribadi yang tenang, tidak berapi-api dalam berceramah atau pidato dan seseorang yang memiliki kemampuan meliputi, Hadits, Qur’an, Syariah, filsafat, dan menguasai paham Kejawaan. Tegas Ustadz Adian.
Menurut ustadz Adian, Pada tahun 1972 hingga 1974, sekularisasi menjadi bagian dari proyek yang dikembangkan oleh Pemerintah. Pada saat itu, Prof. Rasjidi banyak menulis karya-karya ilmiah yang mengkritisi Pemerintah.
Tahun 1972 Prof Rasjidi menulis sebuah buku untuk mengkritisi Nurcholish Majid. Sesuatu yang cukup menarik adalah pada saat itu Nurcholish Madjid baru lulus S1, tegas ustadz Adian.
Tahun 1974, Prof Rasjidi melakukan kritik keras terhadap buku Harun Nasution, yang berjudul Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya yang digunakan sebagai buku wajib di IAIN. Satu hal yang menarik, antara Harun Nasution dan Prof Rasjidi adalah kedekatan antara mereka berdua. Ibu Rasjidi menuturkan, bahwa kedekatan keluarga mereka dengan Harun Nasution, sudah seperti keluarga. Bahkan, saat Harun Nasution melakukan studi di Mc Gill, karena rekomendasi dari Prof Rasjidi.
Prof Rasjidi merupakan orang pertama yang menjadi associate Professor di Mc Gill, Kanada. Pada saat itu, dia pernah mengkritik pemikiran Prof Joseph Schacht –pemikir orientalis yang terkenal saat itu. Bagi ustadz Adian, buku Empat Kuliah Agama Islam Pada Perguruan Tinggi berdasar data-data referensi yang sangat sarat.
Pak Rasjidi adalah tokoh besar, tapi namanya tidak seterkenal pemikir-pemikir lain, seperti Nurcholish dan Harun Nasution, karena Prof Rasjidi kurang akrab dengan media. Pemikiran Prof Rasjidi kala itu sangat keras dalam mengkritisi masalah sekularisasi. Ustadz Adian mengistilahkan, Prof Rasjidi saat itu mengikuti jalan yang tidak popular, karena pada saat itu pemerintah lagi sedang akrab dengan masalah Sekularisasi.
Buku Prof Rasjidi dapat dikatakan sebagai salah satu satu buku yang melampaui zamannya. Pada Bab pertama, Prof Rasjidi membahas tentang, Apakah Agama Masih diperlukan?
Menurut ustadz Adian, kalimat “Agama tidak diperlukan lagi” memiliki dua makna tafsiran, pertama, agama memang tidak dibutuhkan lagi atau disingkirkan dari kehidupan atau agama perlu dipinggirkan. Analisa ini sengaja diangkat karena pada saat itu merebaknya pengaruh Komunisme, Sekularisme, Postivisme dan Saintisme yang berupaya mengarahkan kesimpulan bahwa agama tidak diperlukan lagi. Akan tetapi, pada bab ini Prof Rasjidi mampu membuktikan dengan analisa tajamnya, bahwa agama tetap dibutuhkan.
Pada Bab kedua, dibahas tentang, Apakah Semua Agama Sama?
Pada saat menulis buku ini, istilah Pluralisme belum popular. Istilah pluralisme saat itu baru dikenalkan oleh beberapa pemilkir, seperti Ahmad Wahib dalam catatan hariannya. Prof Rasjidi mampu membuktikan bahwa semua agama tidak sama.
Bab ke Tiga, Pengelompokkan Agama-Agama di Dunia
Prof Rasjidi membagi agama dalam dua kelompok besar, yaitu agama-agama Dunia dan agama samawy, yang terdiri atas Yahudi, Kristen dan Islam
Dan, pada bab teakhir, Prof Rasjidi menegaskan bahwa Agama Islam adalah Agama Samawi yang terakhir.
Terkait masalah pengelompkkan agama, Ustadz Adian kurang sependapat dengan Prof Rasjidi. Beliau lebih sependapat dengan pendapat Syed Naquib Al Attas yang membagi agama dalam dua kelompok besar, yaitu Culture Religions dan Revelation Religion. Dan, Islam adalah tegas ustadz Adian, mengutip perkataan SMN, Islam is the only genuine revelation religion.

Dalam acara bedah buku tersebut, ustadz Adian Husaini berkali-kali memuji analisa ilmiah Prof. HM Rasjidi. Dan bagi beliau, analisa pemikiran Prof. Rasjidi telah melampui zamannya.
November 21st, 2011
Mohammad Ishaq
Oleh: Shohib Khoiri, Lc.
Peneliti PIMPIN
Dalam salah satu haditsnya Rasulullah bersabda:
فضل العالم على العابد كفضل القمر على سائر الكواكب, و إنّ العلماء ورثة الأنبياء
“Keutamaan seorang ‘alim atas ahli ibadah ibarat keutamaan bulan purnama atas bintang-bintang lainnya. Dan sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi” (HR. Tirmidzi)
Hadits ini menegaskan akan besarnya nilai ilmu. Rasulullah menegaskan bahwa seorang yang berilmu lebih baik dari seorang ahli ibadah. Hal ini diibaratkan dengan keutamaan bulan purnama atas bintang-bintang lainnya. Ketika bintang-bintang kecil hanya mampu menerangi dirinya sendiri, maka bulan purnama tidak hanya menerangi dirinya sendiri, tapi mampu juga menerangi dzat-dzat sekitarnya. Begitu juga dengan ahli ibadah, ketika mereka hanya mampu menerangi dirinya sendiri dengan ibadahnya, maka orang-orang berilmu tidak hanya menerangi dirinya, tapi juga menerangi orang-orang disekitarnya dengan ilmunya. Sehingga tidak heran jika pahala menuntut ilmu lebih besar dari ibadah-badah sunnah. Pada suatu hari Rasulullah pernah bersabda kepada Abu Dzar : “Wahai Abu Dzar, Sungguh jika engkau berangkat diwaktu pagi, lalu belajar satu bab dari ilmu, maka itu lebih baik bagimu dari shalat seribu rakaat. (HR. Ibnu Majah)
Dalam suatu riwayat, Abu Hurairah pernah berjalan ke suatu pasar. Sesampainya dipasar beliau melihat orang-orang begitu santai dengan kehidupan mereka. Melihat keadaan demikian beliau berkata: “Siapa diantara kalian yang ingin mendapatkan warisan yang telah Rasulullah tinggalkan?, sesungguhnya warisan Rasulullah saat ini sedang dibagikan di mesjid”. Mendengar ucapan beliau, mereka akhirnya berlarian berangkat ke mesjid untuk mendapatkan warisan. Sesampainya di masjid, mereka ternyata tidak menemukan apa yang dikatakan oleh Abu Hurairah, mereka hanya menemukan orang-orang sedang shalat, mengaji dan mencari ilmu, lalu mereka berkata: “Mana warisan Rasulullah yang engkau katakan?”. Mendengar ucapan mereka, beliau menjawab: “Sesungguhnya inilah harta Rasulullah yang beliau tinggalkan”. Begitulah besarnya perhatian Seorang Abu Hurairah terhadap ilmu. Beliau sadar bahwa tidak ada warisan yang ditinggalkan oleh Rasulullah yang lebih berharga melebihi ilmu. Disaat orang-orang disibukan oleh perniagaan, maka beliau justru disibukan oleh ilmu yang Rasulullah tinggalkan. Hingga sejarah pun mencatat beliau sebagai salah satu sahabat nabi yang paling banyak meriwayatkan hadits meskipun masa interaksi beliau dengan Rasulullah relative sebentar.
Ilmu dan Ulama
Ilmu dan ulama, dua kata yang tidak bisa dipisahkan. Ilmu adalah warisah Rasulullah terbesar sedangkan ulama adala orang-orang yang Rasulullah janjikan sebagai pemegang warisan tersebut. Disamping amanah besar yang Rasulullah sandarkan kepada para ulama untuk menjaga ilmu, Rasulullah pun memperingati akan adanya ulama suu’. Hancurnya umat ini adalah karena kerusakan yang terjadi pada para ulama. Mereka tidak mengajak kepada kebaikan, tapi justru malah menyuruh kekeburukan. Hingga jika ulama ini rusak maka umat pun menjadi rusak lalu tercabutlah ilmu. Rasulullah pernah bersabda:
إن الله لا ينتزع العلم انتزاعا من الناس ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يبق عالما اتخذ الناس رؤوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا
“Tidaklah Allah mencabut ilmu dengan cara mencabutnya dari manusia. Akan tetapi mencabutnya dengan cara mencabut para ulama. Hingga jika tidak tersisa orang yang alim, orang-orang menjadikan orang-orang bodoh sebagai tempat bertanya. Mereka ditanya tentang agama, maka mereka pun menjawabnya maka merekapun sesat dan menyesatkan”.
Setelah Rasulullah memperingati akan hadirnya para ulama suu’ yang akan membawa ilmu yang rusak, maka ada baiknya kita memahami terlebih dahulu tetang hakikat ilmu dan ulama. Yang perlu dicatat bahwa tidak semua orang yang dianggap ‘alim (berilmu/cendekiawan) mereka berhak disebut sebagai orang yang ‘alim menurut syariat. Karena ada orang yang disebut sebagai ‘alim padahal dialah yang pertama kali digiring ke neraka.
عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلّم أنه قال : إنّ أوّل الناس يقضى يوم القيامة رجل تعلم العلم وعلمه وقرأ القرآن، فأتي به فعرفه نعمه فعرفها، قال: فما عملت؟ قال: تعلمت العلم وعلمته، وقرأت فيك القرآن، قال: كذبت ولكنك تعلمت ليقال: عالم! وقرأت القرآن ليقال: قارئ! فقد قيل، ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي في النار.. (رواه مسلم)
“Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau berkata: sesungguhnya yang pertama kali digiring ke neraka pada hari akhir nanti adalah seseorang yang memperlajari ilmu dan mengajarinya serta mereka yang membaca al-Quran. Allah pun memberi tahu kepadanya nikmat hingga mereka tahu. Allah berkata kepada mereka: apa yang kalian kerjakan dengannya?. Dia berkata: aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca al-Quran karena Engkau. Allah berkata: Sungguh kamu telah berdusta !!, padahal kamu mempelajari ilmu agar dikatakan sebagai seorang ‘alim, kamu membaca al-Quran agar disebut sebagai qari’, dan kalian pun telah mendapatkannya. Hingga diperintahkan kepada mereka agar wajah mereka dibenamkan dan dilemparkan ke neraka (Bukhari).
Kemudian ingat juga bahwa diantara sekian banyak ilmu, ada ilmu yang mana Rasulullah berlindung darinya, sebagaimana doa beliau:
اللهمّ أنّي أعوذ بك من علم لا ينفع
Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.
Lalu apakah itu ilmu dan siapakah orang yang ‘alim itu?
Allah berfirman:
أنما يخشي الله من عباده العلماء
“Sesungguhnya yang paling takut terhadap Allah dari hamba-Nya adalah ulama”
Allah berfirman:
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. para malaikat dan orang-orang yang berilmu(juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ali Imran 18)
Ibnu Mas’ud pernah berkata:
كفى بخشية الله علما و كفى بالاغترار بالله جهلا
“Cukupkah rasa takut seseorang kepada Allah menjadi bukti bahwa dia berilmu, dan cukupkah kelalaian terhadap Allah menjadi bukti seseorang jahil”
‘Imran bin Qasir berkata:
سألت الحسن عن شيء, فقلت: إنّ الفقاهاء يقولون كذا و كذا. قال: إنّما الفقيه الزاهد في الدنيا البصير بدينه المداوم على عبادة ربّه.
“Aku bertanya pada Hasan al-Bashri tentang sesuatu, aku pun berkata: Sesungguhnya para fuqaha adalah yang berkata demikian dan demikian. Beliau berkata: Sesungguhnya seorang faqih adalah dia yang zuhud di dunia, mempunyai bashirah terhadap agamanya dan istiqamah dalam beribadah”
Muhammad bin Jabr berkata:
الفقيه من خاف الله عزّ و جلّ
“Seorang faqih adalah dia yang takut terhadap Allah ‘Azza wa Jalla”.
Jadi apakah ilmu yang dengannya seseorang disebut alim?. Ia adalah ilmu yang menambah rasa takut kepada Allah, zuhud di dunia dan rasa cinta akan kehidupan akhirat. Lalu siapakah seorang alim itu?. Adalah dia yang takut kepada Allah, zuhud di dunia dan cinta akan kehidupan akhirat.
Kemudian, setelah mengetahui hakikat ilmu dan ‘alim yang sebenarnya. Kita pun harus mengetahui ilmu yang dengannya membuat kita cinta akan akhirat. Tidaklah ilmu tersebut melainkan ilmu yang langsung diturunkan langsung dari Allah, yaitu al-Quran dan Sunnah.
Rasulullah bersabda:
لو تعلمون ما أعلم لضحكتم قليلا و لبكيتم كثيرا
“Jika sekiranya kalian mengatahu apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan akan banyak menangis”
Hadits ini menunjukan bahwa ilmu yang diberikan kepada Rasulullah adalah sebab yang yang menjadikan beliau sebagai orang yang paling bertakwa diantara manusia-manusia lainnya. Tidaklah ilmu yang nabi dapatkan kecuali ilmu yang menjadi amanah bagi beliau untuk disampaikan kepada umatnya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Jika sekiranya ilmu hakiki adalah ilmu yang membuat kita takut kepada Allah, dan ilmu tersebut adalah al-Quran dan Sunnah, maka seorang ‘alim hakiki adalah, mereka yang ‘alim tentang al-Quran dan Sunnah.
Ibnu Wazir as-Shan’any berkata:
لأنّ من ليس بعالم بالكتاب و السنّة لايستحقّ أن يسمّى بالشرع عالما وإن عرف جميع العلوم ما عدا الكتاب و السنّة. .
“Karena seseorang yang tidak mengetahui tetang kitab dan sunnah tidak bisa dikatakan sebagai seorang yang ‘alim menurut syariat, meskipun dia mengatahui semua ilmu selain kitab dan sunnah”.
Nasihat Ulama dalam langkah-langkah mencari ilmu
Pertama: Ingatlah selalu keutamaan ilmu dan ahlinya
Tidak ada yang diharapkan dari seorang yang berakal kecuali mendapatkan kemuliaan dalam hidupnya. Dan tidak ada kemuliaan abadi melainkan kemuliaan yang dibangun oleh ilmu, yaitu kemuliaan yang tidak diukur oleh harta dan kedudukan.
Seorang ulama mengatakan:
إن كنت -أيها الأخ- ترغب في سمو القدر، ونباهة الذكر، وارتفاع المنزلة بين الخلق، وتلتمس عزاً لا تَثْلِمه الليالي والأيام، ولا تَتحيَّفُه الدهور والأعوام، وهيبةً بغير سلطان، وغنىً بلا مال، ومنفعةً بغير سلاح، وعلاءاً من غيرِ عشيرة، وأعواناً من غير أجرٍ، وجنداً بلا ديوان وفرض – فعليك بالعلم؛ فاطلبه في مظانه تأتِك المنافع عفواً، وتلق ما تعتمد منها صفواً.
“Saudaraku, jika sekiranya engkau mengharapkan derajat yang tinggi, kewibawaan saat namamu disebut, kedudukan terhormat diatara manusia, kemuliaan yang tidak pudar oleh malam dan siang, dan tidak luput oleh pergantian zaman dan tahun, kewibawaan tanpa kekuasaan, kekayaan tanpa harta, manfaat tanpa senjata, tinggi derajat tanpa bantuan saudara, pertolongan tanpa balasan, anak buah tanpa perkantoran, maka hendaklah engkau dapati itu semua dengan ilmu. Carilah selalu ia dalam hidupmu niscaya engkau akan mendapatkannya sebagai sandaran hidupmu”.
Dan yang lebih besar dari itu semua adalah balasan kemuliaan di akhirta yang dikhususkan bagi mereka yang berilmu, sebagaimana firman Allah:
Æìsùöt ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_uy 4
“niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”.
Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu atas orang yang beriman tapi tidak berilmu.
Sedangkan hadits nabi yang menerangkan tentang kemuliaan ilmu diantaranya:
من سلك طريقا يلتمس فيه علما سلك الله به طريقا إلى الجنة وإن الملائكة لتضع أجنحتها لطالب العلم رضا بما يصنع, وإن العالم ليستغفرله من في السماوات والأرض حتى الحيتان في الماء وفضل العالم على العابد كفضل القمر على سائر الكواكب و إن العلماء ورثة الأنبياء, و إنّ الأنبياء لم يرثوا دينارا ولا درهما وإنما ورثوا العلم فمن أخذه أخذ بحظ وافر
Barang siapa yang menempuh jalan mencari ilmu, niscaya Allah akan permudah baginya menuju syurga. Sesungguhnya para malaikan membentangkan sayapnya bagi thaibul ilmi sebagai tanda ridha atas apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya seorang alim, beristighfar baginya semua yang dilangit dan di bumi hingga ikan paus di laut. Dan keutamaan seorang alim atas seorang abid ibarat kemuliaan bulan purnama atas bintang-bintang lainnya. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidaklah mewariskan dinar atau dirham akan tetapi mewariskan ilmu. Maka barang siapa yang mengambilnya maka ia telah mengambil warisan tersebut dengan jumlah yang banyak”.
Ini adalah hadits yang agung yang menerangkan kemuliaan ilmu. Ada beberapa poin yang bisa diambil dari hadits tersebut:
a) Kemuliaan berihlah mencari ilmu.
b) Anjuran untuk mencari ilmu dengan serius, yaitu dengan mengharidi majelis ilmu, membaca, mengulang-ulang hafalan serta mentafakuri apa yang sudah kita dapatkan dari ilmu.
c) Hak-hak yang akan diperoleh bagi penuntut ilmu, diantaranya adalah kemudahan untuk mendapatkannya, dimana ilmu adalah jalan yang memudahkan kita menuju syurga. Sebagaimana firman Allah.
Dan Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?
Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah akan memudahkan bagi hamba-hambanya yang serius mencari ilmu untuk mendapatkannya. Disamping itu Allah pun akan memberikan kemudahan kepada para penuntut ilmu untuk beramal dengan apa yang telah dia dapati dari ilmu jika maksud dari mencari ilmu adalah mendapatkan ridha Allah, yang dengan ilmu tersebut dia mendapatkan hidayah-Nya. Allah juga akan memberikan kepada ahli ilmu yang beramal dengan ilmunya ilmu-ilmu lainnya yang bermanfaat baginya. Sebagaimana sabda Rasulullah:
من عمل بما علم أورثه الله علما ما لم يعلم
“Barang siapa beramal dengan ilmunya maka Allah akan memberikan ilmu yang belum ia ketahui”
d) Ilmu adalah jalan utama yang memudahkan kita untuk mendapatkan syurga. Maka barang siapa yang berjalan mencari ilmu, kemudian dia tidak berpaling dari jalan tersebut, maka ia akan sampai hingga ke syurga. Sebagaimana firman Allah:
“Sesungguhnya Telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan Kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus”. (al-Maidah 15-16).
e) Bahwa para malaikat akan membentangkan sayapnya bagi para pencari ilmu
f) Maghfirah Allah lebih dekat kepada para pencari ilmu, hal ini karena semua makhluk baik di langit atau dibumi, bahkan hingga ikan paus di laut pun beristighfar untuknya juga semut-semut yang berada di sarangnya.
g) Sebagaimana bintang-bintang cahayanya hanya untuk diri sendiri, begitu juga dengan seorang ahli ibadah yang manfaatnya hanya untuk dirinya sendiri. Berbeda halnya dengan bulan purnama yang dapat meneragi sekitarnya, maka begitu juga dengan seorang ‘alim yang dapat menerangi orang-orang disekitarnya.
h) Sebagaimana Rasulullah yang memancarkan cahaya ilmu dan hidayah, maka beliau ibarat matahari. Begitu pula para ulama yang mewarisi ilmu beliau, maka mereka ibarat bulan purnama yang memantulkan cahaya bagi umat ini.
i) Hadits diatas menjelaskan keutamaan ilmu atas ibadah. Bagaimana tidak padahal seorang salafus sholeh berkata:
تعلموا العلم, فإنّ تعلّمه حسنة و طلبه عبادة و مذاكرته نسبيح و البحث عنه جهاد و تعليمه لمن لا يعلمه صدقة و بذله لأهله قربة.
“Pelajarilah ilmu, karena sesungguhnya mempelajarinya adalah perbuatan ihsan, mencarinya adalah ibadah, menghafalnya adalah tashbih, mencarinya adalah jihad, mengajarkannya bagi yang belum mengetahui adalah shadaqah serta mengupayakannya bagi ahli ilmu adalah qurbah”
Ini menunjukan bahwa ilmu mencakup segala ibadah. Kemudian dilanjutkan dengan perkataannya:
لأنّ العلم سبيل منازل الجنّة و هو الأنيس في الوحدة و الصاحب في الغربة و المحدّث في الخلوة و الدليل على السرّاء و المعين على الضرّاء و الزين عند الأخلاّء و السلاح على الأعداء
“Karena ilmu adalah jalan menuju syurga, teman ketika sendirian, kawan dalam pengasingan, teman berbicara dalam kesendirian, petunjuk dalam kebahagiaan, penolong dalam kesulitan, penghias bagi keluarga dan senjata bagi musuh”
j) Ulama adalah pewaris para nabi, yang mana mereka adalah utusannya para rasul. Kedudukannya sama dengan para nabi dalam menyampaikan syariat Allah, maka dari itu Allah menyebut dalam kitab-Nya kata ulama dimana para nabi termasuk didalamnya. Sebagaimana firman Allah:
Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ali Imran 18)
Pada Ayat ini Allah tidak menyebut nabi, akan tetapi Allah menjadikan para nabi dalam kata ‘Ulama. Maka cukuplah ini sebagai bukti akan mulianya para ulama, yang termasuk didalamnya para nabi.
h) Ilmu adalah harta yang besar dan mulia yang membuat mulia ahlinya. Maka dari itu Imam Bukhari mengeluarkan hadits dalam Shahihnya:
لا حسد إلا في اثنتين : رجل أتاه الله الحكمة فهو يقضى بها و يعلمها
“Tidak diperbolehkan hasad kecuali dalam dua perkara: Pemuda yang diberi ilmu oleh Allah kemudian ia mengamalkannya dan mengajarkannya”.
Kedua: Bacalah sejarah ulama terdahulu, karena hal itu mendorong untuk meningkatkan semangat.
Seorang ulama berkata:
لا تقرن نفسك و لا تزنها بأحد من العصريّين و لو كان عالم العصر بلا منازع, و لكن زنها و زن جدّك في الطلب و مقدار ما حصّلته من العلم بجدّ المتقدّمين و عظيم ما حصلوه من العلوم
“Janganlah engkau temani dirimu dan janganlah hiasi dia dengan sejarah ulama-ulama kini meskipun dia termasuk seorang yang alim yang tidak ada tandingannya. Akan tetapi hiasilah dirimu dan semangatmu dalam mencari ilmu dan kadar ilmu yang telah engkau dapati dengan semangat para ulama terdahulu dan kebesaran ilmu yang telah mereka dapatkan”.
Hal ini seperti yang dikatakan oleh imam Daruqutny:
من أحبّ أن ينظر و يعرف قصور علمه عن علم السلف فليظر في حديث الزهري لمحمّد بن يحيى الزهري
“Siapa yang ingin melihat dan mengetahui akan lemahnya ilmu dibandingkan ilmu salafus sholeh, maka lihatlah sejarah Zuhry dalam kita Muhammad bin Yahya az-Zuhry”
Inilah perkataan imam Daruqutny dimana Imam adz-Dzahaby meminum air Zamzam agar bisa menjadi seperti beliau. Dan Imam Adz-Dzahabi dimana Imam Ibnu Hajar minum air Zamzam agar dapat seperti beliau, begitu juga Imam Ibnu Hajar dimana Imam Suyuti meminum air Zamzam agar dapat seperti beliau, dimana masing-masing dari mereka menjadi Imam pada zamannya masing-masing.
Ada banyak faidah yang dapat diambil dalam mempelajari sejarah para ulama salaf. Diriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah berkata:
الحكايات عن العلماء ومحاسنهم أحبّ إليّ من الفقه, لأنّها أداب القوم و أخلاقهم, أولئك الذين هداهم الله فبهداهم اقتده لقد كان في قصصهم عبرة
“Cerita tentang ulama dan kebaikannya lebih aku sukai dari fiqih, karena didalamnya terkandung adab suatu kaum dan akhlaknya. Kepada mereka Allah memberikan hidayah, maka ikutilah langkah mereka, sesungguhnya dalam cerita mereka terdapat pelajaran berharga”.
Dari beberapa faidah tersebut adalah, menyalakan api semangat dan menghilangkan kemalasan, karena sudah menjadi fitrah bahwa rasa malas pasti akan menyerang kita dalam proses mencari ilmu. Diatara faedahnya juga yaitu menancapkan dan menguatkan diri dari sifat lalai yang menyebabkan kebodohan, menghaluskan hati dan menambah rasa tawadhu, mengajarkan kesabaran dalam menghadapi segala masalah. Karena merekalah utusan para Rasul yang membawa amanah ilmu. Maka tidaklah berlebihan jika ada yang mengatakan:
الحكايات جند من جنود الله يتقوّى بها إيمان المؤمنين
“Sejarah adalah tentara dari tentara-tentara Allah, dengannya keimanan orang-orang beriman menjadi kuat”
Ketiga: Berilah kesempatan pada diri untuk menikmati ilmu, karena itulah sebaik-baik kenikmatan.
Ibnu al-Jauzi berkata:
اللذات كلّها حاصلة بين حسيّ و عقليّ, فنهاية اللذّات الحسّيّة و أعلاها النكاح, و غاية اللذّات العقلّة العلم, فمن حصلت له الغايتان في الدنيا فقد نال النهاية, و من عرف لذّة العلم قدّمها على كلّ لذائذ الحسّيّة أعلاها و أدناها, ألا ترى العلماء أعرضوا عن كلّ شيئ من أمور الدنيا استغناء بلذّة العلم, و ذالك أنّ لذّة الحسيّة كالنكاح لذّة غريزيّة جسديّة, و أمّا لذّة العلم فلذّة روحانيّة علويّة. فمن قدّم اللذّة الحسّيّة فهو يمتّع الجسد الفاني فلذّته على قدر محله في الضعف و الفناء, و من قدّم اللذّة العقليّة فهو يمتّع الروح الباقي فلذّته على درجة سموّه من القوّة و البقاء. ومن قدّم اللذّة الحسيّة أصبح باقي الحيوانات, و من قدّم اللذّة العقليّة ارتقى إلى أفضل سمات و صفات البشريّة.
“Semua kenikmatan bersumber dari perasaan dan akal. Puncak kenikmatan rasa adalah nikah, sedangkan puncak kenikmatan akal adalah ilmu. Siapa yang dapat mencapai keduanya, dia telah mendapatkan puncak kenikmatan tersebut. Barang siapa mengetahui nikmatnya ilmu, maka ia akan mengedepankannya dari semua kenikmatan rasa, dari yang kecil hingga yang besar. Tidakkah engkau lihat bagaimana para ulama menolak semua kenikmatan dunia karena mereka merasa cukup dengan nikmatnya ilmu?. Hal tersebut karena kenikmatan rasa, seperti nikah, adalah kenikmatan yang bersifat insting dan “sajady”, sedangkan kenikmatan ilmu adalah kenikmatan ruhany yang tinggi. Barang siapa yang mendahulukan kenikmatan rasa, maka dia memberi kenikmatan kepada jasad yang fana, yaitu kenikmatan yang tidak kekal. Dan siapa yang mendahulukan kenikmatan akal maka dia memberikan kenikmatan kepada ruh yang kekal, sehingga kenikmatan tersebut akan kekal. Barang siapa mendahulukan kenikmatan rasa maka dia tidak ada bedanya dengan hewan. Dan barang siapa mendahulukan kenikmatan akal, dia akan naik ke puncak kemuliaan sebagai manusia.
Pada awalnya memang terasa berat untuk bercengkrama dengan ilmu. Rasa malas, suntuk dan sebagainya sering kali menjadi ganjalan bagi para mencari ilmu, akan tetapi inilah jalan yang dilalui oleh para ulama terdahulu, bahkan tidur mereka pun seringkali berbantalkan kitab-kitab, seperti yang terjadi pada Imam Nawawi Rahimahullah.
Keempat: Biasakanlah diri untuk terus mencari ilmu
Rasulullah pernah berkata:
أحبّ الأعمال إلى الله تعالى ما دام و إن قلّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang berkelanjutan meskipun sedikit”.
Jika hadits diatas menggambarkan bahwa amalan sunnah yang dilakukan berkesinambungan adalah amalan yang paling dicintai oleh Allah, seperti shaum dan sunnah rawatib. Maka bagaimana jika sekiranya amalan yang dilakukan berkesinambungan tersebut adalah sebaik-baik amalan setelah amalan wajib?.
Kelima: Sesekali naikkan tingkatan mencari ilmu pada tingkatan ijtihad.
Hal ini untuk menghidari budaya taqlid, karena hakikat dari taqlid adalah ketidak pahaman akan sumber ilmu. Jika kita sudah terbiasa mencari ilmu, maka dengan sendirinya kita memasuki area ittba’ , yaitu mengikuti sesuatu dengan memahami sembernya. Marhalah inilah awal dari fase mencari ilmu sebenarnya. Sedangkan marhalah taqlid adalah fase “pemanasan” dari sebuah pencarian. Jika sudah terbiasa dalam marhalah ittiba’ maka dengan sendirinya ia akan masuk pada marhalah ijtihad. Hal ini tentunya diukur sesuai dengan kemampuannya, karena memaksan diri untuk memahami sesuatu yang belum waktunya hanya akan melahirkan dua kemungkinan, baik itu menjadikan diri masuk dalam kubangan “pemuja akal” atau menjadikan diri tidak tertarik dengan ilmu tersebut. Disamping itu melepaskan diri dari usaha untuk memahami ilmu atau hanya berlandaskan hafalan hanya akan menjadikan diri fanatik. Inti dari semua ini adalah, ketika kita melatih diri untuk menaikan tingkatan kita dalam mencari ilmu, mulai dari taqlid, ittiba kemudian ijtihad, maka hal itu akan menimbulkan rasa nikmat dalam mencari ilmu, dan manisnya rasa paham, yang dengannya pula semangat untuk terus menammbah ilmu selalu meningkat.
Keenam: Janganlah mencukupkan diri dengan membaca tanpa belajar pada seorang guru begitu pun sebaliknya.
Seorang ulama berkata:
كان العلم في صدور الرجال فصار في الكتب و مفاتيحه بأيدي الرجال
“Ilmu berada di dada seseorang, kemudian berpindah kedalam kitab sedangkan kuncinya berada ditangan mereka”.
Mencukupkan diri hanya dengan membaca tanpa bertanya pada seorang guru bisa mendatangkan kesalahan yang besar, kerena sangat dimungkinkan apa yang kita pahami dari bacaan kita berbeda dengan mereka yang sudah mengetahui lebih dahulu. Dan lebih berbahaya lagi jika kita mengajarkan kepada orang lain apa-apa yang kita pahami secara salah tersebut.
Pada sisi lain ada juga yang mencukupkan diri hanya dengan menghadiri majelis ilmu tanpa melihat pada buku-buku. Jika majelis tersebut tidak ada, maka ia pun akan berhenti dari proses belajar. Hakikat guru hanyalah sarana untuk membuka pintu ilmu, sedangkan untuk mendalaminya lebuh jauh lagi didapati dari membaca buku, karena tidak ada seorang guru yang mampu mengajari ilmu kepada muridnya secara keseluruhan dari awal hingga akhir, hal ini dikarenakan luasnya ilmu yang jauh melebihi waktu luang dan usia seorang guru. Allah A’lam
November 4th, 2011
Mohammad Ishaq
Mohamad Ishaq
Peneliti Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan[1]
ishaq@pimpinbandung.com
Apa yang terbayang dalam benak anda ketika melihat alat kamera? Tahukan anda siapa yang menginisiasi teori pembiasan cahaya Snell? Siapakah ilmuwan yang mencetuskan teori pelangi? Siapakah ilmuwan pertama yang mempelajari mata secara terstruktur? Siapakah perumus “Theory of Vision?”, dan tahukah anda bahwa ia dinobatkan oleh banyak kalangan sebagai “The Father of The Modern Optics” dan “The Father of Scientific Methods”[2]?
Ada satu nama yang muncul dari beberapa pertanyaan di atas. Ia adalah Abu ‘Ali al-Hasan Ibn al-Hasan Ibn Al-Haytham atau Ibn al-Haytham, dan di Barat dikenal sebagai Alhazen atau Alhacen. Ia lahir tahun 965 M dan mendapatkan pendidikan di Basrah Iraq, kemudian atas permintaan Khalifah al-Hakim bi Amrillah ia pergi ke Mesir untuk menangani permasalahan banjir sungai Nil, namun ia mengalami kegagalan. Sebuah sumber menyebutkan bahwa untuk menghindari hukuman berat dari al-Hakim ia kemudian berpura-pura sakit ingatan, dan hanya dihukum penjara. Konon, di dalam penjara gelap yang disinar seberkas sinar dari atas celah inilah ia mengamati berbagai fenomena optik. Terlepas dari kebenaran cerita tersebut, Ibn al-Haytham nyatanya menghasilkan berbagai karya dalam bidang sains alam yang sebagiannya masih bisa ditemukan hingga saat ini
Makalah singkat ini akan sedikit membahas beberapa karya Ibn al-Haythan dalam dunia sains alam, dan dampaknya pada perkembangan sains modern di Barat.
Meskipun Ibn al-Hatham ahli dalam berbagai bidang, ia dikenal sebagai ahli optik yang sangat menonjol. Sebelum al-Haytham beberapa ilmuwan sebelumnya seperti Aristoteles, Euclid, Heron, Archimedes, Ptolemy dan lain-lain telah mulai membahas ilmu optik. Ilmuan lain sebelum al-Haytham yang meneruskan karya ilmuwan Yunani dalam Optik adalah al-Kindi. Al-Kindi menulis karyanya tentang optik berdasarkan teori Euclid dan diterjemahkan barat melalui De Aspectus. Selain itu ada Ibn Sina dan Al-Biruni yang membahas tentang terbatasnya kecepatan cahaya, Hunayn ibn Ishaq dan Ar-Razi yang membahas anatomi dan fisiologi mata.
Bagaimanapu Ibn Al-Haytham merupakan tokoh besar dalam bidang Optik, sebab melalui al-Haythamlah ilmu Optik ditansformasikan menjadi sebuah disiplin ilmu yang lebih saintifik dan terstruktur dan merupakan cikal bakal ilmu Optika saat ini. Ibn al-Haytham mempelajari hampir seluruh aspek dalam optik. Tidak berlebihan jika dikatakan Ibn al-Haytham disebut sebagai salah satu Fisikawan Muslim terkemuka dalam sejarah dunia, ia adalah satu-satunya tokoh besar optik di antara masa Euclid dan Kepler.
Diantara karya-karya dan hasil penelitian al-Haytham adalah fenomena keberadaan atmosfer, risalahnya tentang cahaya senjakala, teorinya tentang pelangi, pembiasan cahaya, studi fisiologi mata, teori penglihatan, dan lain-lain. Namun karyanya yang merupakan magnum opusnya tidak lain adalah Kitab al-Manazhir (Book of Optics) yang berisi ensiklopedia Optik. Buku ini telah memberikan landasan ilmiah bagi peneliti-peneliti di dunia Barat seperti Witelo[3], Roger Bacon[4] dan Peckham[5], juga bagi dua saintis besar Barat dalam kajiannya tentang Optik yaitu Kepler dan Newton.
Dalam karyanya Kitab al-Manzhir, al-Haytham terlebih dahulu membahas studi anatomi dan fisiologi dari organ mata dan syarafnya yang terhubung dari otak pada bola mata yang ia bagi menjadi bagian-bagian mata: conjunctiva, iris, kornea, lensa, Vitrous Humour, Aqueous Humour dan lain-lain.
Gambar 1 Bagian-Bagian Mata Menurut Ibn al-Haytham (After Nasr)
Ia juga menjelaskan fungsi dari bagian-bagian organ mata tersebut dan hubungannya satu dengan yang lainnya. Di dalam buku tersebut ia menjelaskan teorinya tentang penglihatan yang mematahkan teori Ptolemy dan Euclid, bahwa mekanisme mata dapat melihat benda bukan karena cahaya dari mata menuju benda (teori emisi), melainkan karena cahaya yang dipantulkan benda menuju mata.[6] Ini adalah sebuah teori yang penting dan mengubah pandangan para saintis setelah berabad-abad lamanya.
Ibn al-Haytham juga berkontribusi besar pada studi pemantulan (reflection) dan pembiasan (refraction). Ibn al-Haytham memusatkan studinya pada hukum pemantulan pada cermin parabola dan bola termasuk fenomena aberasi optik
Gambar 2 Aberasi sferis pada bola mata dan dampaknya
Sebuah kasus dalam cermin bola yang kemudian dikenal sebagal Alhazen’s problem ia pecahkan secara geometris[7], beberapa abad kemudian saintis optik Huygens memecahkannya secara matematis. Dalam studi hukum pemantulan cahaya, al-Haytham telah memperkenalkan hukum ke-2 pemantulan, yaitu bahwa sinar datang, garis normal dan sinar pantul berada dalam satu bidang. Sebuah hukum pemantulan sinar yang sudah akrab di telinga kita.
Gambar 3 Hukum Pemantulan
Sebuah prinsip penting dari teori perambatan cahaya juga dicetuskan oleh al-Haytham, yaitu bahwa cahaya merambat pada lintasan termudah dan tercepat, bukan lintasan terpendek. Sebuah teori yang saat ini disematkan pada Fermat: prinsip Fermat.
Ibn al-Haytham juga menggunakan kecepatan pada bidang-persegi untuk menentukan pembiasan cahaya jauh sebelum Newton yang tidak berhasil menemukannya. Hukum ini kemudian dikenal sebagai hukum Snell hingga saat ini.
Gambar 4 Hukum Pembiasan
Secara eksperimental ia juga melakukan beberapa eksperimen dengan silinder kaca yang dibenamkan ke dalam air untuk mempelajari pembiasan dan juga menentukan kekuatan pembesaran lensa-lensa. Ia menggunakan mesin bubut untuk membentuk lensa-lensa yang ia gunakan. Ia merancang camera obscura secara teoritis dan mendemonstrasikannya dengan membangun alatnya, inilah camera obscura pertama yang menjadi cikal bakal kamera yang kita kenal sekarang. Camera obscura juga membuktikan bahwa cahaya merambat dalam garis lurus secara eksperimen. Camera Obscura atau pinhole camera adalah sebuah bilik gelap (bayt al-Mudhlim) yang salah satu dindingnya dilubangi. Panorama dari luar bilik diproyeksikan melalui lubang tersebut ke salah satu dinding dalam bilik. Kemudian seseorang yang ada di dalam bilik akan menggambar hasil proyeksi tadi dengan proporsi yang tepat.
Gambar 5 Camera Obscura
Dengan perangkat Camera Obscura ini pulalah Ibn al-Haytham mengamati fenomenda gerhana matajari dengan sangat mudah. Murid dari Ibn al-Haytham, al-Farisi, memperinci mekanisme dan cara kerja dari Camera Obscura tersebut dalam karya Optik lainnya. Al-Farisimeneliti lebih lanjut bahwa semakin kecil lubang dalam dinding maka proyeksi yang dihasilkan semakin tajam, ia menunjukkan juga bahwa hasil proyeksi menjadi terbalik.
Gambar 6 Sketsa Al-Farisi dalam Menjelaskan Proyeksi Camera Obscura (After Turner)
Penggabungan antara pengamatan (observasi), hipotesis, eksperimen dan teori inilah yang menjadi landasan metoda saintifik di Barat. Atas dasar ini pulalah mengapa Ibn al-Haytham disebut sebagai salah satu peletak dasar yang penting dalam metoda saintifik. Ia menggabungkan studi matematis, teoritis dengan eksperimen untuk menguji teorinya.
Gambar 7 Skema Metoda Saintifik Barat
Metoda saintifik inilah yang menjadi landasan ilmiah sains Modern di Barat hingga saat ini, khususnya dalam Ilmu Pengetahuan Alam. Dalam tradisi keilmuan Islam sendiri, akal (sumber munculnya teorema-teorema) dan pancaindera (sumber diperolehnya data dari metoda empiris dan eksperimental) merupakan saluran ilmu (Thuruq al-‘ilm) yang diakui absah khususnya dalam ilmu-ilmu Alam (‘ilm ath-Thabi‘ah), selain sumber lainnya yaitu al-Khabar aÎ-Shadiq (al-Qur’an dan al-Hadith) dan intuisi. Hal ini yang membedakan tradisi keilmuan Islam dengan sains modern di Barat.
Tentang fenomena atmosfer, ia menuliskannya dalam bab astronomi, ia menghitung ketebalan dari atmosfer dan pengaruhnya dalam pengamatan benda langit, permulaan dan akhir senjakala (yaitu bahwa ia mulai dan berakhir ketika matahari di bawah 19o di bawah horizon), juga memberikan penjelasan mengapa matahari dan bulan nampak lebih besar ketika berada di horizon dibandingkan dengan “di atas”, juga efek-efek optik pada atmosfer lainnya termasuk fenomena pembiasan cahaya matahari yang menghasilkan efek pelangi. Ini berarti ibn al-Haytham telah memahami bahwa setiap warna pada cahaya tampak memiliki kecepatan berbeda-beda sehingga dibiaskan dengan sudut yang berbeda.
Murid dari al-Haytham, seperti Kamal al-Din al-Farisi meneruskan karya gurunya dan memberi koreksi dengan menulis karya yang berjudul Tanqih al-Manzhir, yang hingga saat ini masih dapat kita peroleh. Ibn al-Haytham sendiri meneruskan karya pendahulunya Ibn Sahl yang merupakan ahli optik lainnya dalam dunia sains Islam. Sebuah tradisi ilmiah yang menganggumkan dalam konteks abad ke-4 H/-10 M. Ibn al-Haytham menulis 200 buku, namun hanya sedikit yang masih bertahan hingga saat ini termasuk al-Manzhir. Tidak heran jika dikatakan bahwa ilmu Optik dalam dunia Islam adalah sebuah disiplin sains alam yang paling orisinil dan penting.[8] Buku-buku Ibn al-Haytham yang masih tersisa ditemukan di perpustakaan Istambul dan London.[9] Penelitian al-Haytham tentang Optik menjadikan dasar yang amat penting bagi sains di Barat, sehingga banyak ilmuwan Barat menggunakan teori dan hasil temuan al-Haytham dan menisbatkannya pada diri mereka.[10] Adalah sangat mengherankan bahwa dalam buku-buku pelajaran sains dan buku teks sains, sejarah ilmu Optik tidak menyebut sama sekali nama Ibn al-Haytham dan sederet nama penting lainnya. Namanya tetap asing di telinga para pelajar daan mahasiswa dan lingkungan akademik kendatipun jasannya yang luar biasa dalam bidang Optika. Sejarah ilmu Optik pada umumnya meloncat selama hampir seribu tahun dari masa Yunani ke sejarah sains di dunia Barat.
Gambar 8 Halaman Sampul Tanqih Al-Manazhir
Dalam pengamatannya tentang cahaya, Ibn al-Haytham senantiasa mengingat sebuah ayat al-Qur’an sebagai inspirasinya:
Allah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus , yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca kaca itu seakan-akan bintang seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat , yang minyaknya amper-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya , Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (An-Nur 35)
Dalam bukunya al-Manzhir, ia tak sungkan memuji dan memohon pertolongan Allah Subhanahu wa Ta‘ala sebagai tanda kerendah-hatian dan ketawadhuan. Sebuah tradisi yang hilang dari para saintis muslim baik dalam diri mereka maupun dalam buku-buku sains!
Ibn al-Haytham; ia mempelajari cahaya; ia menjadi cahaya bagi sains Modern di Barat; ia dipandu oleh cahaya Qur’ani. Semoga kita mampu meneruskan cahaya ini.
Wa’Llahu a‘lam bi’sh-Shawab.
[1] http://pimpinbandung.com; facebook group: pimpin bandung; Jalan Sadang Tengah 3 No 17 Bandung
[2] Nasr, S.H. Islamic Science an Illustrated Study, World of Islam Festival Publishing Company Ltd, 1976.
[3] Erazmus Witelo, saintis berkebangsaan Polandia lahir sekitar tahun 1230, menulis buku tentang Optik Vitellonis Thuringopoloni opticae libri decem (Ten Books of Optics by the Thuringo-Pole Witelo).
[4] Roger Bacon (1214 – 1294), saintis dan biarawan Inggris yang juga tokoh optik modern, ia mengambil falsafah metoda saintifik dari ilmuwan seperti Ibn Rushd dan Ibn al-Haytham.
[5] John Peckham (Pecham) (1230 – 1292) banyak terpengaruh Bacon dalam bidang Optik, karyanya yang dkenal dalam bidang optik adalah Perspectiva communis.
[6] Nakosteen, Mehdi. History of Islamic Origin of Western Education A.D. 800-1350 with Introduction to Medieval Muslim Education. Terjemah bahasa Indonesia: Kontribusi Islam atas dunia Intelektual Barat: deskripsi analisis abad keemasan Islam. Risalah Gusti. 2003.
[7] Sabra, A.I. Ibn al-Haytham’s Lemmas for Solving “Alhazen’s Problem”. The Annual Meeting of The Histroy of Science Society. New York 1979.
[8] Turner, Howard R. Science in Medieval Islam. An Illustrated Introduction. University of Texas Press, Austin, 1997. Terjemah bahasa Indonesia: Sains Islam yang Mengaggumkan: Sebuah Catatan terhadap Abad Pertengahan.
[9] As-Sirjani, Al-Raghib. Madza Qaddamal Muslimuna lil ‘Alam Ishaamatu al-Muslimin fi al-Hadharah al_insaniyah. Terjemah Bahasa Indonesia: Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia. Pustaka Al-Kautsar. 2011.
[10] Ibid.
June 17th, 2011
admin
Tidak banyak cendekiawan Muslim yang menguasai khasanah Islam dan Barat sekaligus. Salah satunya adalah Dr. Anis Malik Thoha. Pria kelahiran Demak 31 Desember 1964, ini terkenal kritis bila berbicara tentang peradaban Barat, namun tetap menggunakan argumentasi ilmiah yang kokoh. Maka tidak mengherankan disertasinya berjudul: “Al-Taaddudiyyah al-Diniyyah: Ru’yah Islamiyyah” (Pluralisme Agama, Pandangan Islam) diganjar Gold Medal dari International Islamic University Islamabad (2005) dan Isma’il Al-Faruqi Publications Award dari International Islamic University Malaysia (2006). Karyanya yang diindonesiakan menjadi “Tren Pluralisme” ini juga meraih Best Non-Fiction Award dari Islamic Book Fair 2007. Saat ini Khatib ‘Aam Syuriah NU cabang Malaysia ini masih tercatat sebagai Assistant Profesor di Department Ushuluddin and Comparative Religion, International Islamic University Malaysia (IIUM).
***
Menurut Anda apa permasalahan utama perguruan tinggi di tanah air saat ini?
Menurut saya masalah yang dihadapi pendidikan kita pada umumnya sangat kompleks. Masalah ini tidak saja menyangkut corak dan mutu pendidikan formal yang ada tapi juga keterjangkauannya bagi semua lapisan masyarakat kita, khususnya pendidikan tinggi yang semakin lama malah semakin mewah. Selain itu corak pendidikan saat ini tidak lagi tidak mencerminkan jati-diri dan karakter sebuah bangsa yang merdeka. Meski secara fisik Indonesia telah merdeka, namun kultural “terkesan“ senang dijajah, dan bahkan menyerahkan diri secara sukarela untuk dijajah.
Bagaimana halnya dengan perguruan tinggi Islam?
Kondisi ini berlaku untuk semua jenis dan level pendidikan, termasuk pendidikan tinggi Islam. Memang, pada awalnya sudah ada upaya serius dari pihak pemerintah untuk mendirikan perguruan tinggi yang Islami dan dinamakan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN). Hanya saja, karena satu dan lain sebab, konsep PTAI ini tidak berkembang sebagaimana diidealkan, sehingga hanya sebatas fakultas-fakultas keislaman saja: Ushuluddin, Syari’ah, Tarbiyah, dan Dakwah. Inilah yang nampaknya kemudian mendasari dirubahnya menjadi institut, yaitu IAIN.
Sayangnya, yang terjadi kemudian adalah fenomena paradoks. Bagaimana tidak! Orang-orang yang belajar Ushuluddin malah mempertanyakan prinsip-prinsip Islam dan orang yang belajar Syari’ah malah menggugat syariat Islam. Dan yang sangat menggelikan, di saat yang sama, ketika ekonomi Islam dan Islamic banking lagi boom dan naik daun seperti sekarang ini, IAIN yang sudah mengkonversi-diri menjadi UIN pun tidak ragu-ragu membuka program ekonomi Islam dan Islamic banking. Kan lucu, seakan-akan ekonomi Islam dan Islamic banking itu nggak ada kaitannya sama sekali dengan syari’ah.
June 17th, 2011
admin “Islamisasi merupakan sebuah keharusan.” Demikian penegasan yang disampaikan oleh Prof. Dr. Didin Hafidhuddin dalam pidato pembuka International Seminar on Islamic Education di Universitas Ibnu Khaldun (UIKA), Bogor pada 18-19 Mei 2011 yang lalu.
Seminar yang bertemakan “Islamization of Higher Education : Models and Experience in Muslim Worlds” ini menghadirkan sejumlah ilmuwan Muslim dari berbagai negara seperti Prof. Malik Badri (Sudan), Dr. Kabuye Uthman Sulaiman (Uganda), Dr. Saadeldin Mansour Gasmelsid (Sudan), Dr. Muhammad Azzazi (Mesir), Dr. Ssekamanya Siraje Abdallah (Uganda), Dr. Benaouda Bensaid (Kanada), Dr Adi Setiawangsa (Malaysia), Prof. Abuddin Nata (Indonesia), Dr. Anis Malik Thoha (Indonesia), Dr. Syamsuddin Arif (Indonesia), dan Dr. Adian Husaini (Indonesia).
Islamisasi ilmu pengetahuan merupakan isu penting yang telah digulirkan oleh sejumlah cendekiawan Islam sejak 1960-an, diantaranya oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas, Ismail Raji al-Faruqi, Seyyed Hossein Nasr, Wan Mohd Nor Wan Daud, Muzaffar Iqbal, dan lain-lain. Hingga saat ini isu ini masih menjadi perhatian dan pengkajian berbagai cendekiawan Muslim di seluruh dunia. Sejumlah institusi pengkajian Islam dan perguruan tinggi telah didirikan untuk menanggapi isu ini seperti IIIT di Amerika, ISTAC di Malaysia, IIUI Pakistan, dan CIS di Kanada. Beberapa perguruan tinggi Islam di Indonesia, termasuk UIKA sendiri, didirikan dengan semangat Islamisasi ini.
June 17th, 2011
admin Tidak banyak yang mengetahui bahwa ide universitas modern sebenarnya berasal dari dunia Islam. Hal ini tidaklah mengherankan karena universitas di dunia Islam jauh lebih dahulu muncul daripada universitas tertua di Barat. Universitas paling awal di Eropa Barat muncul pada sekitar abad kedua belas, bandingkan dengan universitas Qarrawiyin di Fez (Maroko) yang berdiri sejak 859 M dan al-Ahzar di Kairo (Mesir) yang berdiri tahun 975 M.
Kemiripan ini dapat dilihat dari beberapa kemiripan dari istilah universitas modern dengan tradisi universitas Islam terdahulu. Kata university sendiri diambil dari bahasa latin universitas. Wan Mohd Nor Wan Daud menjelaskan bahwa istilah ini merupakan istilah yang berasal dari tradisi Islam yaitu kulliyat yang bermakna universal. Penggunaan istilah ini dikarenakan ilmu di dalam Islam dipahami sebagai sesuatu yang universal.
June 14th, 2011
Mohammad Ishaq
Konsep Ilmu Dalam Islam, Kekeliruannya dan Dampaknya[1]
Oleh: Usep Mohamad Ishaq (Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan, PIMPIN)
Pendahuluan
Telah banyak para ‘ulama, pemikir, ilmuwan, dan tokoh kontemporer yang mencoba mengatasi kemunduran ummat Islam yang terjadi saat ini. Kiprah mereka untuk melakukan gerakan perbaikan (ishah) sudah dilancarkan di seluruh dunia Islam berpuluh-puluh tahun lamanya dengan berbagai metoda dan sarana. Meskipun terdapat perbedaan dalam metoda dan sarana, akan tetapi terdapat benang merah dari pandangan mereka tentang penyebab utama kemerosotan ummat Islam dewasa ini. Sekadar untuk menyebutkan contoh, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani mengatakan:
Bangkitnya manusia tergantung pada pemikirannya tentang hidup, alam semesta, dan manusia, serta hubungan ketiganya dengan sesuatu yang ada sebelum kehidupan dunia dan yang ada sesudahnya. Agar manusia mampu bangkit harus ada perubahan mendasar dan menyeluruh terhadap pemikiran manusia dewasa ini, untuk kemudian diganti dengan pemikiran lain. Sebab, pemikiranlah yang membentuk dan memperkuat mafahim (persepsi) terhadap segala sesuatu. (lihat: Nizham al-Islam). Tokoh lain Syaikh Hassan al-Banna dalam Bayna al-ams wa al-yawm misalnya mengatakan bahwa diantara faktor kemenangan Islam adalah kita mengajak dengan fikrah Islam, suatu fikrah yang paling kuat. Serangan pemikiran barat melalui pendidikan adalah salah satu pintu masuk kehancuran umat Islam. Sayyid Quthb di sisi lain mengatakan bahwa masalah utama yang dihadapi ummat Islam adalah cengkraman pemikiran Barat (lihat: Khashais at-Tashawwur Islamiy wa Muqawwamatuh).
Tokoh pergerakan lain, misalnya Abu’l A’la Mawdudi mengatakan bahwa Penyebab utama keruntuhan ummat Islam adalah serbuan pemikiran dan budaya barat, baik melalui pintu penjajahan fisik maupun non fisik. (Sebagai solusi) diperlukan sejumlah sarjana , intelektual, pemikir dan pembaharu yang berakhlaq terpuji dan semangat tinggi yang mampu menempati berbagai posisi dan jabatan. Mereka bertugas untuk menolak pemikiran Barat yang merusak dan mengambil yang bermanfaat. (lihat: Waqi’ul Muslimin Sabil an-Nuhudh bihim).
Pakar pendidikan Islam Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas secara jeli melihat lebih mendasar, yakni bahwa permasalahannya tidak hanya keterbelakangan dalam pendidikan dan serbuan pemikiran Barat, namun lebih dalam dari itu, serbuan itu telah mengakibatkan kebingunan dan kekeliruan dalam hal ilmu (confusion and error of knowledge). Menurut al-Attas, akibat dari kebingunan dan kekacauan terhadap ilmu akan menghasilkan kerusakan dan hilangnya terhadap adab (loss of adab). Hilangnya adab dari masyarakat ini memunculkan para pemimpin yang rusak dan palsu dan menghasilkan kebijakan-kebijakan keliru di segala bidang, termasuk dalam bidang pendidikan. Inilah yang disebut oleh al-Attas sebagai vicious circle.